METRODATA Case Study - Tuesday, 10 November 2009
Mengawal Hati dalam Solusi TI
Berkat solusi Orange
Berkat
solusi OrangE, kepercayaan dan
karyawan kepada perusahaan bisa meroket. Semuanya serba terbuka dan adil.
Jangan
main-main dengan penilaian kinerja dan pemenuhan hak-hak karyawan. Bila hal itu
tidak fair atau menyinggung rasa keadilan, motivasi dan semangat kerja
karyawan akan turun. Dan bila penghargaan terhadap karyawan kurang, atau bonus
dan insentif tidak memuaskan, karyawan unggul bisa keluar atau dibajak
kompetitor.
Padahal
bagi perusahaan pembiayaan seperti Buana
Finance, karyawan adalah aset terpenting dan ujung tombak bisnis yang amat
diandalkan. Penyaluran kredit dan nasabah potensial yang berhasil diraih, sangat
tergantung dari kerja keras tim marketing di lapangan dalam melakukan penetrasi
pasar hingga pendekatan pribadi kepada calon nasabah.
Inilah
masalah pelik yang hendak segera dituntaskan perusahaan pembiayaan ini, yang
beberapa tahun lalu diambil alih sahamnya oleh Buana Finance. Perkembangan
jumlah karyawan yang keluar dan masuk turut pula mendorong kebutuhan akan
sistem. Sistem yang bisa mendukung manajemen, terutama bagian human
resources development (HRD), sangat diperlukan. Solusi TI menjadi pilihan
manajemen baru.
Sejak
diambil alih, penerapan sistem baru untuk pengelolaan karyawan dimulai. Awalnya
perusahaan sulit mencari dan mengumpulkan data karyawan yang sebelum 2006
dikelola manual. Sistemnya tidak terintegrasi. “Mungkin
data yang lama hilang semua,” ujar Eri Ernanda, Personal Administration and
Human Resources Information System Department Head, PT. Buana Finance Tbk.
Data
karyawan yang sudah keluar, tidak bisa dilacak. Semua data terkait pekerjaannya,
dibawa pergi untuk kepentingan sendiri. Atau serah terima pekerjaannya tidak
mulus. Padahal karyawan harus meninggalkan semua data itu untuk kepentingan
perusahaan. Manajemen juga mewajibkan segala sesuatu ditempatkan dalam satu
sistem, sehingga siapapun yang bekerja di perusahaan ini tidak bisa
menghilangkan atau menghapus catatan riwayat kerjanya.
Saat
ini data karyawan yang penting adalah kinerja, renumerasi, pelanggaran, serta reward
& punishment-nya. Semuanya harus terekam dalam sistem, hal yang paling
standar dalam sistem kepersonaliaan. Sistem ini harus bisa mencatat semua data
yang diinginkan perusahaan, seperti pelaporan dan statistik kepersonaliaan.
Solusi
OrangE
dipilih dan ternyata mampu mengelola data karyawan terkait masalah
kepersonaliaan, renumerasi dan reward
& punishment sesuai kinerjanya. Sejak itu perusahaan bisa mengelola
data-data karyawan dengan benar. Berapa pun banyaknya karyawan yang keluar dan
masuk, data yang terkait pekerjaan dan pencapaiannya tetap ada di perusahaan.
Perusahaan tinggal memperbaiki dan meneruskannya.
”Pada
bulan pertama kami sangat tergantung dengan PT. Mitra Integrasi Informasi
(MII)—anak perusahaan METRODATA. Eri dan tim banyak menyokong, sehingga dalam
3-4 bulan saya bisa menguasai 70-80% data karyawan,” kata Irvan Satyawan, Vice
President Human Resources Development General Services Division Head, PT. Buana
Finance Tbk.
Saat
pertama kali implementasi, setiap tanggal 15, perusahaan sudah harus menyiapkan
sistem penggajian untuk tanggal 25. ”Selama dua bulan, tiap hari kami bekerja
hingga pukul 20.30, sampai akhirnya sistem baru bisa dikuasai dan masalah cukup
diselesaikan lewat telepon. Asistensi tim MII memang bagus. Tapi tim kami harus
secepatnya menguasai sistem baru,” kata Eri. Kini pengaduan dari kantor-kantor
cabang sudah sangat menurun. Dulu dalam dua bulan, bisa masuk 100-an pengaduan.
Sekarang dalam sebulan hanya satu. Bantuan cukup dengan konsultasi via telepon.
Mengapa
OrangE dipilih? Sistem ini bisa
dijalankan secara web based.
Perusahaan ingin agar semua orang bisa mengerjakannya di luar kantor, termasuk
saat cuti. Lalu kemudahan operasionalnya bisa secara taylor
made. OrangE bisa di-customized,
sesuai kebijakan manajemen. Harganya pun sesuai dengan harapan Buana Finance.
Selain
itu sistem kepersonalian yang baik harus memenuhi semua peraturan dan kebijakan,
termasuk regulasi pajak yang baru. Pelaporan mesti per
bulan. Dengan OrangE, daftar karyawan,
NPWP-nya, penghasilan kotornya, dan lain-lain bisa keluar. Dengan begitu
potongan pajaknya bisa di-update. Dulu
semua hitungannya menumpuk di akhir tahun, baru dilakukan pemotongan.
Beberapa
hal dan kebijakan terkait pengelolaan karyawan sudah bisa diselaraskan dalam
jangka waktu tertentu untuk masuk ke dalam OrangE.
Misalnya program kepemilikan kendaraan. Sistem bisa memberi tahu riwayat kerja
karyawan, plafon yang bisa diterimanya, transaksi yang sudah dilakukan, berapa
investasi oleh perusahaan, dan sebagainya.
Kini
yang sangat membantu adalah employee self services (ESS). Semua
karyawan bisa meng-input sendiri
data-datanya, seperti klaim biaya kesehatan dan permohonan cuti. Hal
ini mengurangi 70% tugas bagian HRD di komputer. Dulu HRD bisa meng-input
200–350 transaksi biaya kesehatan per bulan, tapi sekarang tinggal mencek saja
dan memberi persetujuan.
Buana
Finance saat ini menyalurkan 60% pembiayaan ke leasing,
atau penyewaan alat-alat berat dan mesin-mesin. Dan 40% untuk consumer
finance pemilikan mobil. Untuk mobil pasar untuk kalangan menengah masih
luas. Kini consumer finance sudah
meluas, hingga Buana Finance perlu membuka cabang dan service point di daerah-daerah. Kini sudah ada 22 cabang Buana
Finance, semua masih di Ibukota provinsi, belum termasuk Papua dan Aceh.
Perkembangan
ini membutuhkan tambahan karyawan. Daripada mencari orang di luar, lebih baik
memanfaatkan orang di dalam, sekaligus mengembangkan karirnya. Kini dengan OrangE,
perusahaan bisa mengetahui berapa orang dalam usia tertentu, berapa lulusan SMA,
S1 dan S2, atau pada jabatan apa terjadi turn
over terbanyak, berapa lama kerja rata-rata di jabatan itu, dan sebagainya.
Data
administrasi kepersonaliaan yang telah terisi dan ter-update
dalam sistem, mampu mendukung pengembangan karir karyawan, penilaian kinerjanya,
pendidikan dan pengalaman profesionalnya, serta track
record-nya. Bila perusahaan membutuhkan orang dengan kualifikasi tertentu,
ia bisa dilacak dalam sistem.
Buana
Finance menggunakan dua modul OrangE
yaitu operation module dan strategic
module. Operation module, 95%
telah digunakan. Dan strategic module,
baru sekitar 20% digunakan. “Karena ini menyangkut kebijakan perusahaan,
sistem harus bisa mengakomodir semua kebijakan dan disinergikan,” kata Eri.
Kini sistem sudah berjalan baik. Beberapa hal sudah bisa disederhanakan dan
dikembangkan tim TI, sesuai dengan kebijakan perusahaan dan kebutuhan yang ada.
”Hal
penting lainnya, kami tidak mau meng-input
data yang sama sampai dua kali. Untuk
itu telah hadir sistem baru bernama E-Loan, yang diharapkan dapat terintegrasi
dengan ESS dan OrangE,” kata Eri.
E-Loan merupakan backbone system
perusahaan yang mengelola semua proses bisnis, mencakup sistem penjualan,
keuangan, dan akunting. Kini Buana Finance tengah mengembangkan lagi general services. Jurnal-jurnal yang ada digabungkan, agar mereka
yang butuh data, misalkan bagian keuangan, bisa menggunakan data tanpa meng-input
ulang.
Biarlah
sistem yang bekerja, yang terpenting semua data tercatat di dalamnya. Ke
depannya pekerjaan bagian HRD diupayakan lebih santai, tidak banyak meng-input
data dan disibukkan pekerjaan administratif, cukup mencek and recek informasi
agar semua berjalan baik. Lalu HRD bisa lebih berkonsentrasi mengembangkan
solusi untuk memenuhi apapun yang dibutuhkan karyawan,
strategic module sudah harus segera dilaksanakan. ”Energi untuk
pengembangan sistem bisa 70%, tetapi untuk administrasinya cukup 30%, karena
sistem telah menangani semua,” tutur Eri. (***)
|